Wednesday, May 26, 2010

In repair

Too many shadows in my room

Too many hours in this midnight

Too many corners in my mind

So much to do to set my heart right

...


Those pieces of "In Repair" by John Mayer are suddenly being played in my head with repeat-mode. I don't know why, but lately I simply not feeling okay about myself. I have no problem with school. I passed all of my course. But i don't know, it simply doesn't feels right.


I got friends and buddies who i can share my story with. I'm not alone, neither lonely, but i just feel like i had something to be fixed with myself. In fact, i have a less schedule during the last 10-months or so of my study. With less busy schedule, somehow i felt like less productive. So many waste of time and energy. The allocation of the time wasn't good lately. I did too much unnecessary things in the last couples of months.


And emotional-wise, i found that i'm losing my sense of "greatness". I'm losing my "self-serving bias" that always supports me all the way. I feel i'm marginal, now. I'm now sometimes whispering myself "I was special, but not anymore". What the hell's wrong here ? Where the hell's those nice-and-positive feelings went from myself ? I feel like those glorious days are over. Those tiring-yet-exciting days during the last 5 years or so. Those young, restless, and yet reckless spirit. I want those spirit back.


Tonight, i feel like my soul is half-empty. I am not okay. And i have to do something about it. I don't know how, but i should fixed this. And i will.

Sunday, May 16, 2010

Minggu dini hari

Dia yang terbang di antara awan-awan mimpi
Berbekal abstraksi diri yang tak selalu memberi arti

Dia yang tenggelam di dalam lamunan
Di simpang ladang-ladang harapan tak bertuan

Dia yang merayap di tengah gelap
Di medan yang tak selalu sesuai dengan harap

Dia yang berdiri di kaki langit
Yang tetap tegar di hadapan realita yang menghimpit

Terus bergerak dan jangan terhenti
Karena berhenti berarti mati

--
amsterdam, 150510

Monday, April 26, 2010

Aku yang meragu, diantara mimpi-mimpi yang ambigu

Saat saya menulis tulisan ini, seharusnya saya sedang mengerjakan tugas essay 1000 kata dari mata kuliah Strategy and Organisation. Seperti biasa, kalau seharusnya sedang mengerjakan tugas tapi ujungnya malah nulis di blog, berarti sedang ada sesuatu.

Hari ini usia saya 20 tahun, 5 bulan, 26 hari . Dalam dua semester lagi, insyaallah saya jadi sarjana. Satu Sarjana Ekonomi, dan satu lagi Bachelor of Science in Economics and Business. Delapan minggu lalu, mimpi-mimpi saya masih konkret, semuanya masih jelas. Rencananya sehabis S1 mau cari pengalaman kerja dulu, satu atau dua tahun, lanjut S2 (kalau ada biaya), baru lantas pulang ke Indonesia jadi pengusaha. Halus benar ya tampaknya, ya namanya juga mimpi.

Lantas, beberapa minggu terakhir begitu banyak mimpi baru bermunculan. Mulai dari mau kuliah agriculture and rural development di Belanda, sustainable development di Britania Raya, perikanan di Norway, sampai juga terobsesi kuliah economic development dan entreprenenurship di London. Mimpi mau jadi petani dan turut berkontribusi di daerah rural, kerja di WorldBank atau lembaga-lembaga development lainnya, dan lain-lain. Begitu banyak mimpi baru mengepul di kepala, sampai akhirnya sampai satu titik saya bertanya pertanyaan sederhana yang biasa terlontar sewaktu saya masih jadi anak sekolah dasar : "kalau sudah besar, kamu mau jadi apa ?". Ya benar, saya bertanya, "Saya ini mau jadi apa sebenarnya ?"

Ibarat pesawat terbang, arah sih masih ada, tapi saya kehilangan ketinggian jelajah. Ujungnya jadi bingung sendiri mau apa sehabis sarjana. Beberapa rekan bilang, "yang penting lulus sarjana aja dulu, Rif". Ya, I know. Kalo lulus sarjana sih jelas wajib, tapi pertanyaannya sehabis itu lalu apa ? Intinya adalah, bukannya saya tidak punya tujuan sekarang, tapi karena terlalu banyak keinginan jadinya malah terjebak di mimpi-mimpi sendiri.

Sebenarnya semua field of interest saya itu berhubungan. Entrepreneurship, Agriculture, dan Economic Development itu setali tiga uang. Para petani kita harus memiliki entrepreneurial mindset agar bisa bergerak dari commodity based agriculture ke value-added based agriculture. Kalau pada prosesnya para pelaku bisnis itu memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan antara aspek-aspek, lingkungan, sosial, dan ekonomi, barulah nantinya tercipta yang namanya konsep sustainable development.

Setelah berbincang dengan beberapa teman dan googling, katanya saya ini sedang terjangkit gejala apa yang mereka sebut sebagai quarter life crisis. Ciri-cirinya ada beberapa, anda bisa baca sendiri di Wiki, atau sumber lainnya. Alexandra Robbins sampai menulis dua buku tentang hal ini. QLC biasa terjadi pada young adults usia awal 20an sampai mereka memasuki usia 30. Sangat umum pada mereka yang sedangbridging antara lulus dari bangku kuliah dan memasuki dunia kerja. Kalau menurut buku nya Alexa Robbins, "when they struggle to find their place in the world". Saya rasa masih terlalu cepat untuk QLC buat saya sekarang, saya berusia 20 saja belum genap setengah tahun.

Sulitnya jadi seseorang yang terlalu self-conscious memang begini. Tapi tak apa, toh saya tidak merugikan siapa-siapa. Mungkin sudah saatnya saya untuk istirahat sejanak untuk terus membuat rencana. Saatnya untuk tarik nafas sejenak dan mengerjakan apa yang ada di depan mata. Kalau kata band kenamaan di Indonesia, Padi, "bukankah hidup ada perhentian ? tak harus kencang terus berlari".

Semoga saja ini temporer. Saya harap Jakarta bisa membantu saya keluar dari gejala dengan istilah aneh ini. Tak harus lantas langsung banting setir memulai sesuatu yang baru. Saya tahu sebenarnya arahnya sudah berbentuk, hanya tinggal dipoles sedikit saja biar makin terstruktur. Mungkin ada baiknya untuk mengganti sejenak alat bantu melihat, dari teropong jarak jauh ke kacamata jarak menengah.

Banyak yang bilang, sangat sulit dan tidak baik bila kita hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Saya sendiri meng-amin-i. Tapi saya baru tahu bahwasannya, menjawab ekspektasi diri sendiri itu jauh lebih sulit.